Penyisipan dan Penghapusan

Klik disini untuk mendownload artikel dibawah

No Teks asli Penghapusan Penyisipan Teks dasar
1 Faga bereproduksi menggunakan siklus litik atau siklus lisogenikFaga adalah jenis virus yang paling dipahami dibandingkan dengan semua jenis virus lainnya, walaupun beberapa diantaranya juga merupakan virus yang paling kompleks. Penelitian terhadap faga menghasilkan penemuan bahwa beberapa virus DNA untai-ganda dapat bereproduksi dengan menggunakan dua mekanisme: siklus litik dan siklus lisogenik. Faga bereproduksi menggunakan siklus litik atau siklus lisogenikFaga adalah jenis virus yang paling dipahami dibandingkan dengan [semua] jenis virus lainnya, walaupun beberapa diantaranya [juga] merupakan virus yang paling kompleks.

Penelitian terhadap faga menghasilkan penemuan bahwa beberapa virus DNA untai-ganda dapat bereproduksi dengan menggunakan dua mekanisme: siklus litik dan siklus lisogenik.

Faga bereproduksi menggunakan siklus litik atau siklus lisogenikFaga adalah jenis virus yang paling dipahami dibandingkan dengan jenis virus lainnya, walaupun beberapa diantaranya merupakan virus yang paling kompleks.

Penelitian terhadap faga menghasilkan penemuan bahwa beberapa virus DNA untai-ganda dapat bereproduksi dengan menggunakan dua mekanisme, yaitu: siklus litik dan siklus lisogenik.

Faga bereproduksi menggunakan siklus litik atau siklus lisogenikFaga adalah jenis virus yang paling dipahami dibandingkan dengan jenis virus lainnya, walaupun beberapa diantaranya merupakan virus yang paling kompleks.

Penelitian terhadap faga menghasilkan penemuan bahwa beberapa virus DNA untai-ganda dapat bereproduksi dengan menggunakan dua mekanisme, yaitu: siklus litik dan siklus lisogenik.

2 Siklus litikSiklus reproduksi virus yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel inang disebut sebagai siklus litik. Istilah tersebut mengacu pada tahapan akhir dari infeksi, yaitu saat bakteri lisis dalam sel (lyse-pecah terbuka) dan melepaskan faga yang dihasilkan di dalam sel. Masing-masing faga ini kemudian dapat menginfeksi sel yang masih sehat, dan beberapa siklus litik berturut-turut dapat menghancurkan seluruh koloni bakteri hanya dalam hitungan jam. Virus yang hanya dapat bereproduksi dengan siklus litik disebut virus virulen. Gambar 18.4 menggunakan faga T4 yang  virulen untuk menjelaskan tahapan siklus litik. Gambar dan keterangan yang diberikan menjelaskan proses yang perlu Anda pelajari sebelumnya melanjutkan bab ini. Siklus litikSiklus reproduksi virus yang [pada akhirnya menyebabkan] kematian sel inang [disebut sebagai siklus litik.] Istilah tersebut mengacu pada tahapan akhir dari infeksi, yaitu saat bakteri lisis dalam sel (lyse-pecah terbuka) dan melepaskan faga yang dihasilkan [di] dalam sel. Masing-masing faga ini kemudian dapat menginfeksi sel yang masih sehat, dan beberapa siklus litik berturut-turut dapat menghancurkan seluruh koloni bakteri hanya dalam hitungan jam. Virus yang hanya dapat bereproduksi dengan siklus litik disebut virus virulen. [Gambar 18.4 menggunakan faga T4 yang virulen untuk menjelaskan tahapan siklus litik.

Gambar dan keterangan yang diberikan menjelaskan proses yang perlu Anda pelajari sebelumnya melanjutkan bab ini.]

 

Siklus litikSiklus litik adalah siklus reproduksi virus yang berakhir pada kematian sel inang.  Istilah tersebut mengacu pada tahapan akhir dari infeksi, yaitu saat bakteri lisis  di dalam sel (lyse-pecah terbuka) dan melepaskan faga yang dihasilkan dari dalam sel. Masing-masing faga ini kemudian dapat menginfeksi sel bakteri yang masih sehat, dan beberapa siklus litik berturut-turut dapat menghancurkan seluruh koloni bakteri hanya dalam hitungan jam. Virus yang hanya dapat bereproduksi dengan siklus litik disebut virus virulen. Siklus litikSiklus litik adalah siklus reproduksi virus yang berakhir pada kematian sel inang.  Istilah tersebut mengacu pada tahapan akhir dari infeksi, yaitu saat bakteri lisis  di dalam sel (lyse-pecah terbuka) dan melepaskan faga yang dihasilkan dari  dalam sel. Masing-masing faga ini kemudian dapat menginfeksi sel bakteri yang masih sehat, dan beberapa siklus litik berturut-turut dapat menghancurkan seluruh koloni bakteri hanya dalam hitungan jam. Virus yang hanya dapat bereproduksi dengan siklus litik disebut virus virulen.

 

3 Setelah membaca tentang siklus litik, Anda mungkin bertanya mengapa faga ini tidak menghancurkan semua bakteri. Sebenarnya, bakteri sendiri bukan tanpa pertahanan. Seleksi alam lebih berpihak kepada mutan-mutan bakteri yang memiliki tempat reseptor yang tidak lagi dikenali oleh tipe faga tertentu. Dan ketika DNA faga berhasil masuk ke dalam bakteri, berbagai macam enzim degradatif bisa menghancurkannya. Enzim-enzim yang disebut restriksi nuclease, misalnya, mengenali dan memotong DNA yang dianggap asing bagi sel, termasuk DNA faga tertentu. DNA dan sel-sel bakteri itu sendiri telah dimodifikasi secara kimiawi untuk melindunginya dari enzim restriksi. Tetapi, sebagaimana halnya seleksi alam lebih berpihak pada bakteri dengan enzim restriksi yang efektif, seleksi alam juga lebih berpihak pada mutan faga yang resisten terhadap enzim ini. Oleh karena itu, hubungan inang-parasit ini berada dalam aliran evolusioner yang konstan.  Setelah membaca tentang siklus litik, Anda mungkin bertanya mengapa faga ini tidak menghancurkan semua bakteri. Sebenarnya, bakteri  [sendiri bukan tanpa pertahanan]. Seleksi alam lebih berpihak kepada mutan-mutan bakteri yang memiliki tempat reseptor yang tidak lagi dikenali oleh tipe faga tertentu. Dan ketika DNA faga berhasil masuk ke dalam bakteri, berbagai macam enzim degradatif bisa menghancurkan[nya]. [Enzim-enzim yang disebut] restriksi nuclease, [misalnya], mengenali dan memotong DNA yang dianggap asing bagi sel, termasuk DNA faga tertentu. DNA dan sel-sel bakteri itu sendiri telah dimodifikasi secara kimiawi untuk melindunginya dari enzim restriksi. Tetapi, sebagaimana halnya seleksi alam lebih berpihak pada bakteri dengan enzim restriksi yang efektif, seleksi alam juga lebih berpihak pada mutan faga yang resisten terhadap enzim ini. Oleh karena itu, hubungan inang-parasit ini berada dalam aliran evolusioner yang konstan.  Setelah membaca tentang siklus litik, Anda mungkin bertanya mengapa faga ini tidak menghancurkan semua bakteri. Sebenarnya, bakteri melakukan pertahanan untuk menghindari faga . Seleksi alam lebih berpihak kepada mutan-mutan bakteri yang memiliki tempat reseptor yang tidak lagi dikenali oleh tipe faga tertentu. Dan ketika DNA faga berhasil masuk ke dalam bakteri, berbagai macam enzim degradatif yang dimiliki bakteri bisa menghancurkan DNA faga tersebut. Contohnya adalah enzim restriksi nuclease, yang dapat mengenali dan memotong DNA yang dianggap asing bagi sel, termasuk DNA faga tertentu. DNA dan sel-sel bakteri itu sendiri telah dimodifikasi secara kimiawi untuk melindunginya dari enzim restriksi. Tetapi, sebagaimana halnya seleksi alam lebih berpihak pada bakteri dengan enzim restriksi yang efektif, seleksi alam juga lebih berpihak pada mutan faga yang resisten terhadap enzim ini. Oleh karena itu, hubungan inang-parasit ini berada dalam aliran evolusioner yang konstan.  Setelah membaca tentang siklus litik, Anda mungkin bertanya mengapa faga ini tidak menghancurkan semua bakteri. Sebenarnya, bakteri melakukan pertahanan untuk menghindari faga . Seleksi alam lebih berpihak kepada mutan-mutan bakteri yang memiliki tempat reseptor yang tidak lagi dikenali oleh tipe faga tertentu. Dan ketika DNA faga berhasil masuk ke dalam bakteri, berbagai macam enzim degradatif yang dimiliki bakteri bisa menghancurkan DNA faga tersebut. Contohnya adalah enzim restriksi nuclease, yang dapat mengenali dan memotong DNA yang dianggap asing bagi sel, termasuk DNA faga tertentu. DNA dan sel-sel bakteri itu sendiri telah dimodifikasi secara kimiawi untuk melindunginya dari enzim restriksi. Tetapi, sebagaimana halnya seleksi alam lebih berpihak pada bakteri dengan enzim restriksi yang efektif, seleksi alam juga lebih berpihak pada mutan faga yang resisten terhadap enzim ini. Oleh karena itu, hubungan inang-parasit ini berada dalam aliran evolusioner yang konstan. 
4 Masih ada satu alas an penting lain mengapa bakteri terhindar dari pemusnahan akibat aktivitas faga. Banyak faga dapat membatasi kecenderungan dekstruktif mereka sendiri, dan daripada melisis sel iangnya, mereka memilih hidup bersama-sama dengan sel inang tersebut di dalam siklus lisogenik.  Masih ada satu alasan penting [lain] mengapa bakteri [terhindar dari pemusnahan] akibat aktivitas faga. Banyak faga dapat membatasi kecenderungan dekstruktif mereka sendiri, [dan daripada melisis sel inangnya, mereka memilih hidup bersama-sama dengan sel inang tersebut di dalam siklus lisogenik].  Masih ada satu alasan penting mengapa tidak semua bakteri musnah akibat aktivitas faga. Banyak faga dapat membatasi kecenderungan dekstruktif mereka sendiri, mereka lebih memilih hidup bersama-sama dengan sel inang di dalam siklus lisogenik daripada melisis sel inang tersebut.  Masih ada satu alasan penting mengapa tidak semua bakteri musnah akibat aktivitas faga. Banyak faga dapat membatasi kecenderungan dekstruktif mereka sendiri, mereka lebih memilih hidup bersama-sama dengan sel inang di dalam siklus lisogenik daripada melisis sel inang tersebut. 
5 Siklus LisogenikBerlawanan dengan siklus litik yang membunuh sel inang, siklus lisogenik mereplikasi genom virus tanpa menghancurkan inang. Virus yang dapat menjalankan kedua cara bereproduksi di dalam suatu bakteri ini disebut virus temperat. Untuk membandingkan siklus litik dan siklus lisogenik, kita akan mempelajari faga temperat yang disebut lambda, disingkat dengan huruf Yunani λ. Faga λ mirip dengan T4, tetapi ekornya hanya memiliki satu serabut ekor yang lebih pendek (tidak diperlihatkan pada GAMBAR 18.5)

 

Siklus LisogenikBerlawanan dengan siklus litik yang membunuh sel inang, siklus lisogenik mereplikasi genom virus tanpa menghancurkan inang. Virus yang dapat menjalankan kedua cara bereproduksi di dalam suatu bakteri ini disebut virus temperat. Untuk membandingkan siklus litik dan siklus lisogenik, kita akan mempelajari faga temperat yang disebut lambda, disingkat dengan huruf Yunani λ. Faga λ mirip dengan T4, tetapi ekornya hanya memiliki satu serabut ekor yang lebih pendek [(tidak diperlihatkan pada GAMBAR 18.5)]

 

Siklus LisogenikBerlawanan dengan siklus litik yang membunuh sel inang, siklus lisogenik mereplikasi genom virus tanpa menghancurkan inang. Virus yang dapat menjalankan kedua cara bereproduksi (siklus litik dan siklus lisogenik) di dalam suatu bakteri ini disebut virus temperat. Untuk membandingkan siklus litik dan siklus lisogenik, kita akan mempelajari faga temperat yang disebut lambda, disingkat dengan huruf Yunani λ. Faga λ mirip dengan T4, tetapi ekornya hanya memiliki satu serabut ekor yang lebih pendek.

 

Siklus LisogenikBerlawanan dengan siklus litik yang membunuh sel inang, siklus lisogenik mereplikasi genom virus tanpa menghancurkan inang. Virus yang dapat menjalankan kedua cara bereproduksi (siklus litik dan siklus lisogenik) di dalam suatu bakteri ini disebut virus temperat. Untuk membandingkan siklus litik dan siklus lisogenik, kita akan mempelajari faga temperat yang disebut lambda, disingkat dengan huruf Yunani λ. Faga λ mirip dengan T4, tetapi ekornya hanya memiliki satu serabut ekor yang lebih pendek.

 

6 Infeksi sel E. coli oleh λ dimulai ketika faga mengikatkan diri pada permukaan sel dan menginjeksikan DNA-nya (GAMBAR 18.5). Ketika berada di dalam inang, molekul DNA λ membentuk lingkaran. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung dari cara reproduksinya: siklus litik atau siklus lisogenik. Selama siklus litik, gen-gen virus dengan cepat mengubah sel inang menjadi semacam pabrik yang mereproduksi λ, dan sel tersebut segera lisis dan melepaskan produk virusnya. Genom virus berperilaku berbeda-beda selama siklus lisogenik. Molekul DNA λ dimasukkan melalui rekombinasi genetic (pindah silang) ke dalam suatu tempat spesifik di dalam kromosom sel inang. Virus ini kemudian dikenal sebagai profaga. Satu gen profaga mengkode suatu protein yang menekan (menghambat) ekspresi sebagian besar gem-gen profaga yang lain. Dengan demikian, genom faga lebih banyak diam sewaktu berada di dalam bakteri. Kemudian, bagaimana faga tersebut bereproduksi? Setiap kali E. coli bersipa-siap membelah diri, ia juga mereplikasi DNA faga bersama-sama dengan DNA-nya sendiri dan menurunkan salinannya kepada sel anakan. Satu sel yang terinfeksi dengan cepat dapat menghasilkan satu populasi besar bakteri yang membawa virus tersebut dalam bentuk profaga. Mekanisme ini membuat virus dapat berpropagasi tanpa membunuh sel inang di mana mereka bergantung. Infeksi sel E. coli oleh λ dimulai ketika faga mengikatkan diri pada permukaan sel dan menginjeksikan DNA-nya [(GAMBAR 18.5)]. Ketika berada di dalam inang, molekul DNA λ membentuk lingkaran. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung dari cara reproduksinya: siklus litik atau siklus lisogenik. Selama siklus litik, gen-gen virus dengan cepat mengubah sel inang menjadi semacam pabrik yang mereproduksi λ, dan sel tersebut segera lisis dan melepaskan produk virusnya. virus berperilaku berbeda-beda selama siklus lisogenik. Molekul DNA λ dimasukkan melalui rekombinasi genetic (pindah silang) ke dalam suatu tempat spesifik di dalam kromosom sel inang. Virus ini kemudian dikenal sebagai profaga. Satu gen profaga mengkode suatu protein yang menekan (menghambat) ekspresi sebagian besar gen-gen profaga yang lain. Dengan demikian, genom faga lebih banyak diam sewaktu berada di dalam bakteri. Kemudian, bagaimana faga tersebut bereproduksi? Setiap kali E. coli bersiap-siap membelah diri, ia juga mereplikasi DNA faga bersama-sama dengan DNA-nya sendiri dan menurunkan salinannya kepada sel anakan. Satu sel yang terinfeksi dengan cepat dapat menghasilkan satu populasi besar bakteri yang membawa virus tersebut dalam bentuk profaga. Mekanisme ini membuat virus dapat berpropagasi tanpa membunuh sel inang di mana mereka bergantung.  Infeksi sel E. coli oleh λ dimulai ketika faga mengikatkan diri pada permukaan sel dan menginjeksikan DNA-nya.  Ketika berada di dalam inang, molekul DNA λ membentuk lingkaran. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung dari cara reproduksinya: siklus litik atau siklus lisogenik.  Selama siklus litik, gen-gen virus dengan cepat mengubah sel inang menjadi semacam pabrik yang mereproduksi λ, dan sel tersebut segera lisis dan melepaskan produk virusnya. virus berperilaku berbeda-beda selama siklus lisogenik. Molekul DNA λ dimasukkan melalui rekombinasi genetic (pindah silang) ke dalam suatu tempat spesifik di dalam kromosom sel inang. Virus ini kemudian dikenal sebagai profaga. Satu gen profaga mengkode suatu protein yang menekan (menghambat) ekspresi sebagian besar gen-gen profaga yang lain. Dengan demikian, genom faga lebih banyak diam sewaktu berada di dalam bakteri. Kemudian, bagaimana faga tersebut bereproduksi? Setiap kali bakteri E. coli bersiap-siap membelah diri, bakteri tersebut juga mereplikasi DNA faga bersama-sama dengan DNA-nya sendiri dan menurunkan salinannya kepada sel anakan. Satu sel bakteri yang terinfeksi dengan cepat dapat menghasilkan satu populasi besar bakteri yang membawa virus tersebut dalam bentuk profaga. Mekanisme ini membuat virus dapat berpropagasi tanpa membunuh sel inang di mana mereka bergantung.  Infeksi sel E. coli oleh λ dimulai ketika faga mengikatkan diri pada permukaan sel dan menginjeksikan DNA-nya.  Ketika berada di dalam inang, molekul DNA λ membentuk lingkaran. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung dari cara reproduksinya: siklus litik atau siklus lisogenik.  Selama siklus litik, gen-gen virus dengan cepat mengubah sel inang menjadi semacam pabrik yang mereproduksi λ, dan sel tersebut segera lisis dan melepaskan produk virusnya. virus berperilaku berbeda-beda selama siklus lisogenik. Molekul DNA λ dimasukkan melalui rekombinasi genetic (pindah silang) ke dalam suatu tempat spesifik di dalam kromosom sel inang. Virus ini kemudian dikenal sebagai profaga. Satu gen profaga mengkode suatu protein yang menekan (menghambat) ekspresi sebagian besar gen-gen profaga yang lain. Dengan demikian, genom faga lebih banyak diam sewaktu berada di dalam bakteri. Kemudian, bagaimana faga tersebut bereproduksi? Setiap kali bakteri E. coli bersiap-siap membelah diri, bakteri tersebut juga mereplikasi DNA faga bersama-sama dengan DNA-nya sendiri dan menurunkan salinannya kepada sel anakan. Satu sel bakteri yang terinfeksi dengan cepat dapat menghasilkan satu populasi besar bakteri yang membawa virus tersebut dalam bentuk profaga. Mekanisme ini membuat virus dapat berpropagasi tanpa membunuh sel inang di mana mereka bergantung. 
7 Istilah lisogenik mengimplikasikan bahwa profaga pada kondisi tertentu, dapat menghasilkan faga aktif yang melisis sel inangnya. Hal ini terjadi ketika genom λ keluar dari kromosom bakteri. Pada saat ini, genom λ memerintahkan sel inang untuk membuat faga yang utuh dan kemudian menghancurkan diriya sendiri, melepaskan partikel faga yang dapat menginfeksi. Yang mengubah virus dari menggunakan cara lisogenik menjadi cara litik adalah pemicu dari lingkungan, seperti radiasi atau adanya beberapa zat kimiawi tertentu.  Istilah lisogenik mengimplikasikan bahwa profaga pada kondisi tertentu, dapat menghasilkan faga aktif yang melisis sel inangnya. Hal ini terjadi ketika genom λ keluar dari kromosom bakteri. Pada saat ini, genom λ memerintahkan sel inang untuk membuat faga yang utuh dan kemudian menghancurkan dirinya sendiri, melepaskan partikel faga yang dapat menginfeksi. Yang mengubah virus dari menggunakan cara lisogenik menjadi cara litik adalah pemicu dari lingkungan, seperti radiasi atau adanya beberapa zat kimiawi tertentu.  Istilah lisogenik mengimplikasikan bahwa profaga pada kondisi tertentu, dapat menghasilkan faga aktif yang melisis sel inangnya. Hal ini terjadi ketika genom λ keluar dari kromosom bakteri. Pada saat ini, genom λ memerintahkan sel inang untuk membuat faga yang utuh dan kemudian menghancurkan dirinya sendiri, sehingga melepaskan partikel faga yang dapat menginfeksi. Yang mengubah virus dari menggunakan cara lisogenik menjadi cara litik adalah pemicu dari lingkungan, seperti radiasi atau adanya beberapa zat kimiawi tertentu.  Istilah lisogenik mengimplikasikan bahwa profaga pada kondisi tertentu, dapat menghasilkan faga aktif yang melisis sel inangnya. Hal ini terjadi ketika genom λ keluar dari kromosom bakteri. Pada saat ini, genom λ memerintahkan sel inang untuk membuat faga yang utuh dan kemudian menghancurkan dirinya sendiri, sehingga melepaskan partikel faga yang dapat menginfeksi. Yang mengubah virus dari menggunakan cara lisogenik menjadi cara litik adalah pemicu dari lingkungan, seperti radiasi atau adanya beberapa zat kimiawi tertentu. 
8 Selain gen untuk protein reseptor (penekan), sejumlah kecil gen profaga yang lain juga dapat diekspresikan selama siklus lisogenik, dan pengekspresian gen-gen ini mungkin mengubah fenotipe bakteri inang. Misalnya, bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia yaitu difteri, botulisme, dan demam jengkering mungkin tidak membahayakan manusia seandainya tidak terdapat gen-gen profaga tertentu yang dapat menginduksi bakteri inang untuk membuat toksin.  Selain gen untuk protein reseptor (penekan), sejumlah kecil gen profaga yang lain juga dapat diekspresikan selama siklus lisogenik, dan pengekspresian gen-gen ini mungkin mengubah fenotipe bakteri inang. Misalnya, bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia yaitu difteri, botulisme, dan demam jengkering mungkin tidak membahayakan manusia seandainya tidak terdapat gen-gen profaga tertentu yang dapat menginduksi bakteri inang untuk membuat toksin.  Selain gen untuk protein reseptor (penekan), sejumlah kecil gen profaga yang lain juga dapat diekspresikan selama siklus lisogenik, dan pengekspresian gen-gen ini mungkin mengubah fenotipe bakteri inang. Misalnya, bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia yaitu difteri, botulisme, dan demam jengkering mungkin tidak membahayakan manusia seandainya tidak terdapat gen-gen profaga tertentu yang dapat menginduksi bakteri inang untuk membuat toksin. Selain gen untuk protein reseptor (penekan), sejumlah kecil gen profaga yang lain juga dapat diekspresikan selama siklus lisogenik, dan pengekspresian gen-gen ini mungkin mengubah fenotipe bakteri inang. Misalnya, bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia yaitu difteri, botulisme, dan demam jengkering mungkin tidak membahayakan manusia seandainya tidak terdapat gen-gen profaga tertentu yang dapat menginduksi bakteri inang untuk membuat toksin. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s